Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung dimana gambaran klinis berupa dispepsia atau indigesti . ( Kapita Selekta, 2001, Media Aesclupius).
Ø Gastritis merupakan inflamasi mukosa lambung, sering akibat diet yang salah. Dimana individu makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau yang mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Penyebab lain dari gastritis akut mencakup alkohol, aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi.
(KMB Vol. 2)
Ø Gastritis adalah peradangan mukosa lambung terutama pada tahun – tahun lanjut kehidupan dewasa dimana pada kasusu-kasus yang berlangsung lama dapat menyebabkan atrofi mukosa lambung (Fisiologi Kedokteran,1997)
Ø Gastritis adalah suatu bentuk peradangan mukosa lambung yang disertai dengan kerusakan-kerusakan pada mukosa lambung tersebut(www.lidyaw.multiply.com)
B. Etiologi
a. Obat analgetik anti-inflamasi
Jika kita sering minum obat-obatan yang gunanya untuk menghilangkan rasa sakit, di dalamnya termasuk obat sakit kepala, dapat mengiritasi lambung. Salah satu contohnya adalah aspirin. Obat ini dalam dosis rendah sudah dapat mengiritasi lambung
b. Bahan-bahan kimia
banyak zat kimia yang kalau kita konsumsi dapat memacu terjadinya penyakit gastritis. Bahan-bahan ini dapat memacu terjadinya gastritis melalui berbagai mekanisme, bisa meningkatkan produksi asam lambung, mengganggu keseimbangan mukosa lambung, dan lain-lain. Salah satu contohnya adalah Lisol
c. Merokok.
Kita pasti sudah tahu, merokok banyak merugikan tubuh. Sudah terbukti kalau orang yang merokok memang jadi lebih berisiko untuk terkena penyakit radang lambung ini.
d. Alkohol
Ketika kita terbiasa minum-minuman beralkohol, selain merusak lambung, juga bisa merusak hati/lever.
e. Stres fisik.
Ini bisa terjadi, misalnya, karena luka bakar, infeksi yang sampai masuk ke pembuluh darah/sepsis, adanya trauma, sedang dalam perawatan setelah pembedahan, adanya henti napas, gagal ginjal, dan kerusakan saraf. Semua keadaan di atas menimbulkan stres fisik yang cukup serius sehingga secara tidak langsung dapat menyebabkan iritasi pada lambung.
f. Refluks usus lambung
yaitu membaliknya makanan yang sudah masuk usus kembali ke dalam lambung. Keadaan ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan asam lambung sehingga lama-kelamaan bisa menjadi gastritis.
g. Endotoksin
yaitu racun-racun dalam tubuh kita. Zat racun ini ada yang mengganggu kerja lambung, mengubah keasaman enzim-enzim pada lambung, dan lain-lain.
GASTRITIS AKUT
v Pemakaian sering obat-obatan NSAID seperti aspirin yang tanpa pelindung selaput enterik
v Peminum alkohol
v Perokok berat
v Stres fisik (luka bakar)
v Keracunan makanan (enterotoksin)
GASTRITIS KRONIK
v Penderita dengan ulkus peptikum
v Hubungan dengan karsinoma lambung
v Pada penderita dengan anemia
v Pada penderita setelah gastrektomi
v Pada orang sehat terutama usia tua.
C. Manifestasi klinik
1. Sebagian penderita bisa muntah darah
2. Hilangnya nafsu makan
3. Nyeri epigastrium
4. Nausea
5. Kehilangan berat badan
6. Sakit kepala
7. Dapat terjadi ulsesrasi superfisial dan mengarah pada hemoragi
8. Rasa tak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan, mual dan anoreksia. Mungkin terjadi muntah dan cegukan.
9. Beberapa pasien menunjukkan asimptomatik.
10. Dapat terjadi kolik dan diare jika makanan yang mengiritasi tidak dimuntahkan, tetapi malah mencapai usus.
11. Pasien biasanya pulih kembali kembali sekitar sehari, meskipun napsu makan akan hilang selama 2 sampai 3 hari.
D. Patolofosiologi
Terdapat gangguan keseimbangan faktor agresif dan faktor defensive yang berperan dalam menimbulkan lesi pada mukosa.
Faktor agresif | Faktor defensif |
Asam lambung Pepsin AINS Empedu Infeksi bakteri dan virus Bahan korosif: asam & basa | Mukus Bikarbonas mukosa Prostaglandin mikrosirkulasi |
Keadaan normal, faktor defensif dapat mengatasi faktor agresif sehingga tidak terjadi kerusakan atau kelainan patologi. Sedangkan pada gastritis kronik belum diketahui dengan pasti.
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
v Selama pengumpulan riwayat, perawat menayakan tentang tanda dan gejala
pada pasien.
1. Apakah pasien mengalami nyeri uluhati, tidak dapat makan,mual, atau
muntah?
2. Apakah gejala terjadi pada waktu kapan saja, sebelum atau sesudah makan,
setelah mencerna makanan pedas atau mengiritasi, atau setelah mencerna
obat tertantu atau alkohol?
3. Apakah gejala berhubungan dengan ansietas, stres, alergi, makan atau
minum terlalu banyak, atau makan terlalu cepat?
4. Bagaimana gejala hilang?
v Adakah riwayat penyakit lambung sebelumnya atau pembedahan lambung?
Riwayat diet ditambah jenis diet yang baru dimakan selama 72 jam, akan
membantu.
v Riwayat lengkap sangat penting dalam membantu perawat untuk
mengidentifikasi apakah kelebihan diet atau diet sembrono yang diketahui,
berhubungan dengan gejala saat ini
v Lakukan pengkajian fisik lengkap. Perhatikan adanya nyeri tekan abdomen,
dehidrasi, dan bukti-bukti kelainan sistemik yang mungkin bertanggungjawab
terhadap gejala-gejala.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dgn adanya iritasi mucosa lambung
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake nutrisi tdk adekuat
3. Resiko kekurangan volume cairan b.d ketidakcukupan masukan cairan dan kehilangan cairan berlebihan akibat muntah
4. Kecemasan b.d kurang pengetahuan
5. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
C. Intervensi
Tujuan :
• Menghilangkan nyeri
• Mempertahankan intake nutrisi tetap adekuat
• Mempertahankan volume cairan tubuh
• Meningkatkan pengetahuan klien
• Mengurangi ansietas
Intervensi keperawatan
1. Menghilangkan nyeri:
• Kaji ulang tingkat nyeri klien.
• Berikan informasi tentang berbagai strategi yang dipilih untuk menurunkan rasa nyeri
• Anjurkan klien menggunakan strategi yang dipilih untuk menurunkan rasa nyeri.
• Anjurkan klien agar tidak makan makanan yang merangsang peningkatan asam lambung.
• Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian anti analgetik.
Rasional :
• Agar dapat mengetahui tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
• Dapat mengetahui metode penurunan nyeri serta dapat melakukannya.
• Membantu dalam menurunhkan ambang nyeri yang dialami.
• Agar klien dapat mengetahui makanan yang merangsang asam lambung serta tidak mengkonsumsinya.
• Menurunkan tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
2. Mempertahankan nutrisi tetap adekuat
• Jelaskan klein dan keluarga tentang pentingnya makanan bagi tubuh.
• Monitor jumlah makanan yang masuk.
• monitor adanya muntah dan catatat jumlah, frekwensi dan warna
• Berikan makanan yang bervariasi menurut dietnya untuk merangsang nafsu makan.
• Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering.
• Kolaborasi dengan tim medik untuk pemberian obat anti emetik.
Rasional
• Klien dan keluarga dapat mengetahui pentingnya
• Untuk mengetahui besar makanan yang dikonsumsi.
• Sebagai data untuk melakukan tindakan keperawatan dan pengobatan selanjutnya.
• Agar klirn dapat termotivasi dan merangsang nafsu makan.
• Untuk mengurangi perasaan dan memenuhi kebutuhan makanan bagi pasien.
• Sebagai terapi untuk menghambat/ rangsangan mual dan muntah.
3. Mempertahankan volume cairan tubuh
· Kaji kemungkinan adanya tanda-tanda dehidrasi serta catat intake dan output.
· Kaji kesimbangan cairan dan elektrolit setiap 24 jam.
· Anjurkan klien tetap mempertahankan intake peroral yaitu makan dan minum sedikit-sedikit tapi sering
· Anjurkan klien menghindari mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein.
Rasional :
· Mendeteksi tanda-tanda awal dehidrasi.
· Mendeteksi indicator awal ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
· Agar keseimbangan cairan tubuh klien dapat tetap dipertahankan.
· Kafein merupakan stimulan sistem saraf pusat yang dapat meningkatkan aktivitas lambung dan sekresi pepsin yang menimbulkan peningkatan sekresi asam lambung sehingga dapat menimbulkan reaksi mual dan muntah.
4. Mengurangi ansietas
• Kaji rasa cemas klien.
• Beri kesempatan pada klien mengungkapkan rasa cemasnya.
• Jelaskan pada klien tantang diet yang bisa dijalankankan setelah sembuh.
• Jelaskan pada klien tentang prosedur pengobatan/perawatan yang akan dilakukan dan dianjurkan kooperatif didalamnya.
• Berikan motivasi pada klien tentang kesembuhannya.
Rasional :
• Sebagai data awal untuk mengetahui tingkat kecemasan klien.
• Agar dapat mengetahui penyebab cemas yang dialami serta mengurangi beban psikologis klien.
• Klien dapat mematuhi diet serta menghindari kambuh penyakitnya kembali.
• Dapat memahami dan menerima segala tindakan yang dilakukan untuk proses penyembuhan penyakitnya.
• Klien dan keluarga optimis atas penyembuhan penyakit klien dan mematuhi segala anjuran yang diberikan.
5. Meningkatkan pengetahuan klien tentang penyakitnya
• Kaji tingkat pengetahuan klien
• Berikan informasi yang diperlukan dgn menggunakan kata yang tepat dan waktu yang sesuai
• Yakinkan klien bahwa penyakitnya dpt diatasi
Rasional :
• Sebagai data awal untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien
• Agar klien mengetahui status penyakitnya sehingga mengurangi kecemasan
• Klien optimis atas penyembuhan penyakit kliennya mematuhi segala anjuran yang diberikan
D. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
1. Menghindari makan-makanan yang mengiritasi atau makanan yang mengandung kafein/alkohol
2. Melaporkan nyeri berkurang
3. Tanda-tanda vital dlm batas normal
4. Volume cairan tubuh tetap terjaga
5. Menunjukkan berkurangnya ansietas
6. Mengekspresikan minat dlm belajar bagaimana mengatasi penyakitnya
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gastritis adalah suatu bentuk peradangan mukosa lambung yang disertai dengan kerusakan-kerusakan pada mukosa lambung tersebut,yang dapat bersifat akut, dan kronis dimana individu makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu atau yang mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Penyebab lain dari gastritis akut mencakup alkohol, aspirin, refluks empedu, terapi radiasi, merokok, stress fisik dan endotoksin.
Adapun tanda dan gejala dari penyakit gastritis adalah mual,sebagian penderita bisa muntah darah, hilangnya nafsu makan, nyeri epigastrium, nausea, muntah dan cegukan, kehilangan berat badan, sakit kepala.
diagnosa keperawatan dari penyakit gastritis adalah Nyeri berhubungan dgn adanya iritasi mucosa lambung, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake nutrisi tdk adekuat, resiko kekurangan volume cairan b.d ketidakcukupan masukan cairan dan kehilangan cairan berlebihan akibat muntah, kecemasan b.d kurang pengetahuan, dan kurang pengetahuan b.d kurang informasi.
DAFTAR PUSTAKA
http://www. lidyaw.multiply.com
Doenges ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC; Jakarta
Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. EGC; Jakarta
Suddart & Brunner. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. EGC; Jakarta
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar