Kamis, 03 Mei 2012

Askep Peritonitis

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera.
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum, lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini.
Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam.
Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic, stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi.

A.    Etiologi
1.    Infeksi bakteri
• Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal
• Appendisitis yang meradang dan perforasi
• Tukak peptik (lambung / dudenum)
• Tukak thypoid
• Tukan disentri amuba / colitis
• Tukak pada tumor
• Salpingitis
• Divertikulitis
     Kuman yang paling  hemolitik, stapilokokus aurens,b dan ยต sering ialah bakteri Coli, streptokokus  enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.
2. Secara langsung dari luar.
• Operasi yang tidak steril
• Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.
• Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati
• Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.
3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus.
4. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses, ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. coli 40%, klebsiella pneumoniae 7%, spesies pseudomonas, proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%, jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri.

B.     Manifestasi Klinik
1.      Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum.
2.      Demam
3.      Distensi abdomen
4.      Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.
5.      Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.
6.      Nausea
7.      Vomiting
8.      Penurunan peristaltik

C.    Anatomi Fisiologi
      Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga, dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis, lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ), kemudian ketiga otot dinding perut m.obliquus abdominis eksterna, m.obliquus abdominis internus dan m.transversum abdominis, dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium, yaitu fascia transversalis, lemak preperitonial dan peritonium. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba.6
      Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan, dapatan, maupun iatrogenik. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal.
      Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. Intercostalis VI – XII dan a.epigastrika superior. Dari kaudal terdapat a.iliaca, a.sircumfleksa superfisialis, a.pudenda eksterna dan a.epigastrika inferior. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n.thorakalis VI – XII dan n. lumbalis I.6

D.    Patofisiologi
     Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus.
     Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia.
     Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.
     Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi.
     Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.

E.     Penatalaksanaan
     Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri.
     Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi.
     Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi.
     Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi.
     Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain.
     Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terus-menerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi.


KONSEP KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
1.      AKTIVITAS / ISTIRAHAT
Gejala              : Kelemahan
Tanda              : Kesulitan ambulasi
2.      SIRKULASI
Tanda              : Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok).
                                      Edema jaringan.
3.      ELIMINASI
Gejala              : Ketidakmampuan defekasi dan flatus.
                         Diare (kadang-kadang).
Tanda              : Cegukan; distensi abdomen; abdomen diam.
                         Penurunan haluaran urine, warna gelap
Penurunan/tak ada bising usus (ileus); bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi); kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hiperresonan/timpani (ileus); hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen)
4.      MAKANAN / CAIRAN
Gejala              : Anoreksia, mual / muntah; haus.
Tanda              : Muntah proyektil.
                                                                 Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk.
5.      NYERI / KENYAMANAN
Gejala             : Nyeri abdomen tiba-tiba berat, umum atau lokal, menyebar ke bahu, terus-menerus oleh gerakan.
Tanda              : Distensi, kaku, nyeri tekan.
6.      PERNAPASAN
Tanda              : Pernapasan dangkal, takipnea.
7.      KEAMANAN
Gejala              : Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis).

B.     Diagnose Keperawatan
Berdasarkan pengkajian diatas,maka diagnosa yang diambil adalah :
1.         Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan  primer.
2.         Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus.
3.         Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer.
4.         Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik.
5.         Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan.

C.    Intervensi Keperawatan
1.      Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan  primer.
Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi.
Intervensi :
a.       Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen, apendisitis akut, dialisa peritoneal.
Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.
b.      Kaji tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan nadi, takikardia, demam, takipnea.
Rasional : tanda adanya syok septik, endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari sirkulasi, dan rendahnya status curah jantung.


c.       Catat perubahan status mental (contoh bingung, pusing)
Rasional : Hipoksemia, hipotensi, dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental.
d.      Catat warna kulit, suhu, kelembaban.
Rasional : Hangat, kemerahan, kulit kering adalah tanda dini septikemia. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin, kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok.
e.       Awasi haluaran urine
Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal, toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik.
f.       Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen, luka insisi/terbuka, dan sisi invasif. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat.
Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang.
g.      Observasi dreinase pada luka/drein.
Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi.
h.      Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter, dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin.
Rasional : mencegah penyebaran, membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius.
i.        Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan.
Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun.
2.      Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus.
Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan


Intervensi :
a.       Pantau tanda vital, catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural), takikardia, takipnea, demam. Ukur CVP bila ada.
Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan.
b.      Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster, drein, balutan, hemovac, keringat, lingkar abdomen.
Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan.
c.       Ukur berat jenis urine
Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal.
d.      Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan, turgor. Catat edema perifer/sakral.
Rasional : hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan.
e.       Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. Batasi pemasukan es batu
Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah
f.       Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan.
Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit.
3.      Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer.
Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri
Intervensi :
a.       Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lama, intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, konstan).
Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi.

b.      Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi
Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.
c.       Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, napas dalam, latihan relaksasi/visualisasi.
Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian.
d.      Berikan perawatan mulut dengan sering. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan.
Rasional : menurunkan mual/muntah, yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen.
4.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik.
Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi
Intervensi :
a.       Awasi haluaran selang NG. Catat adanya muntah/diare
Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut.
b.      Auskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif
Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada, inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorpsi air dan diare
c.       Ukur lingkar abdomen
Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites.
d.      Timbang berat badan dengan teratur
Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan.


e.       Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus
Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral.
5.      Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan.
Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan
Intervensi :
a.       Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non-verbal pasien. Dorong ekspressi bebas akan emosi.
Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan sakit, penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan.
b.      Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan
Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas.
c.       Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur
Rasional : membatasi kelemahan, menghemat energi, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

D.    Evaluasi
1.      Factor infeksi berkurang atau tidak ada
2.      Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit
3.      Nyeri berkurang atau tidak ada
4.      Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya
5.      Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang





DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.





Tidak ada komentar: