Fungsi fisiologi yang efesien memerlukan pembuangan bahan-bahan yang kotor dari tubuh, pembuangan kotoran penting untuk kehidupan itu sendiri.
Dengan pengeluaran (pembuangan) melalui saluran kencing dan usus,
tubuh dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi. Kebutuhan badan dan dari produk buangan (kotoran). Pengeluaran yang efektif perlu untuk memelihara ke- sehatan maupun kehidupan itu sendiri.
Eliminasi (Elimination) secara garis besarnya menyangkut :
1. Produk Buang Air Besar (BAB)
2. Produk Buang Air Kemih (BAK)
Mekanisme pembuangan (eliminasi), tidak hanya melibatkan usus (besar)
dan kandung kencing, tetapi juga organ-organ lain seperti paru-paru dan
kelenjar keringat.
Perawat harus menginsafi bahwa proses-proses itu penting supaya tubuh berfungsi dan menanganinya secara langsung dan objektif. Kebanyakan me-nganggapnya pengeluaran (pembuangan) sebagai sudah semestinya, kecuali kalau timbul masalah. Akan tetapi tindakan-tindakan pencegahan mungkin pen-ting untuk mendorong pola-pola yang normal dari pembuangan kotoran. Di dalam beberapa hal, untuk memudahkan pengeluaran perlu diambil tindakan perawatan kalau terjadi kegagalan suatu fungsi kolon.
B. KONSEP DASAR ELIMINASI BAB
1. Review Anatomi Kolon
- Kolon (usus besar) yang terdiri dari beberapa bagian, kolon yang naik dari usus
sampai ke hati disebut C. asendent, kemudian melengkung melintasi perut,
usus melintang disebut C. transversum dari kanan ke kiri perut.
- Tikungan dari usus melintang yang membentuk usus besar turun disebut C.
desendent, lanjutan dari C. desendent terletak miring dari rongga pel-
vis sebelah kiri adalah C. sigmoid ujung bawahnya berhubungan
dengan rektum yang menghubungkan kolon dengan anus.
- Merupakan pipa lumen muskuler malapisi membrana mukosa
- Bentuknya berliku-liku / lekuk-lekuk, karena otot longitudinal lebih pendek dari
pada panjang kolon
- Panjang kolon 1,5 m, lebarnya 5 – 6 cm
* Fungsi Kolon :
1. Absorpsi air dan nutrient
2. Proteksi/perlindungan dengan mensekresikan mucus yang akan melindungi
dinding usus dari trauma oleh faeses dan aktivitas bakteri
3. Mengantarkan sisa makanan sampai ke anus dengan cara berkontraksi
* Gerak Kolon
- Haustral shuffling
Gerakan mencampur chyme untuk membantu absorpsi air
- Kontraksi Haustral
Untuk mendorong materi cairan dan semi padat sepanjang kolon
- Pristalitis
Berupa gelombang merupakan gerak maju menuju anus
* Defekasi
Ada dua pusat yang menguasi refleks untuk defekasi yaitu yang terletak di
medulla dan sebuah cabang di sum-sum tulang belakang.
Secara sistematis fisiologi Defekasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Refleks Defekasi Parasimpatis
Usus besar menguncup
Refleksi Defekasi Diransang oleh Faeses Dalam Rektum
Rektum Regang
Tekanan Di Dalam Rektum naik
Refleks Dirangsang oleh Rentangan Otot
Timbul Keinginan Untuk BAB
2. Pengaruh Psikososial Terhadap Fungsi Kolon
* Ketegangan
Keadaan yang menyebabkan tegang dan penyakit dapat mengakibatkan
gangguan keadaan normal dari pengeluaran kotoran, mereka yang me-
ngalami keadaan tegang sehingga sering mengalami masalah penge-
luaran kotoran dari tubuh
* Anal incontinensia
Ketidak mampuan sphinter anus untuk mengatasi pembuangan tinja
dan gas disebut anal incontinensia ini disebabkan penyakit organis me-
ngakibatkan kondisi mekanis akan menghalangi fungsi wajar dari dubur
atau rusaknya saluran syaraf ke dubur
* Incontinensia stres
Melemahnya otot spinter anus dan meningkatnya tekanan dirongga pe-
rut dapat terjadi incontinensia stres, bentuk ini juga dapat terjadi pada
diare
* Penyimpangan neurologis
Beberapa penyakit fital terutama pada penyakit penyimpangan neorolo-
gis dimana seseorang tidak dapat mengontrol spinternya
Resiko dan akibat dari gangguan suatu fungsi kolon seperti inconti-
nensia dapat mempengaruhi gangguan psikososial yang serius, se-
perti :
- Penderita merasa malu dan mungkin mengganggu emosinya
- Pasien mendapat pandangan yang lebih jelek akan dirinya sendiri
- Kemungkinan untuk berfungsi secara mandiri menjadi kecil
- Pasien incontinensia kadang-kadang terorganisir dari lingkungan sosial-
nya.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi BAB
1. Usia
2. Diet : Kualitas; Frekuensi, dan Jumlah
3. Intake Cairan; jumlah
4. Tonus Otot : terutama otot abdormen ditunjang oleh aktivitas
5. Psikologis : mempengaruhi paristaltis atau mobilitas intestine
6. Life Style : ADL yang biasa dilakukan dan bowel training saat anak-anak
C.MASALAH YANG SERING TERJADI DALAM
ELIMINASI BAB
1. Konstipasi
Gangguan pada eliminasi akibat adanya faeces yang kering, keras yang
melewati usus besar. Passase faeces yang lama dikarenakan jumlah air
yang diabsorpsi sangat kurang sehingga faeces kering dan keras
2. Fecal Impaction
Massa yang keras dilipatan rektum akbat retensi dan akumulasi faeces
yang berkepanjangan
3. Diare
Keluarnya faeces cair dan menaikkan frekuensi BAB akibat cepatnya chy-
me melewati usus sehingga usus besar tidak mempunyai cukup waktu
menyerap air
4. Inkontinensia Alvi
Hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran faeces dan gas
yang melalui sfingter anus akibat kerusakan fungsi sfingter atau persara-
fan di daerah anus hal ini disebabkan masalah-masalah kejiwaan.
5. Kembung
Flatus yang berlebihan di instestinal sehingga menyebabkan intestinal.
6. Hemorroids (Bawasir)
Pelebaran vena di daerah anus, sebagai akibat peningkatan tekanan di
daerah tersebut.
D. MENGKAJI KEBUTUHAN ELIMINASI BAB
I. Riwayat Keperawatan
a. Pola Defekasi
- Frekuensi / hari ?
- Pernah berubah ?
- Apa penyebabnya ?
b. Perilaku Defekasi
- Pelaksanaan laksatif
- Bagaimana cara mempertahankan pola
c. Dekskripsi Faeses
- Gambaran klien tentang faeses, warna, tekstur, bau dan “shape” (bentuk)
d. Diet
- Menurut klien makanan yang mempengaruhi defekasi
- Makanan yang biasa dimakan
- Makanan yang dihindari
- Makanan teratur atau tidak
e. Cairan
- Jumlah dan jenis minuman / hari
f. Aktifitas
- Kegiatan sehari-hari
- Kegaiatan spesifik
g. Penggunaan Medikasi
- Penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi saluran gastrointestinal
h. Stress
- Stress berkepanjangan atau pendek
- Koping untuk menghadapi atau bagaimana menerima
i. Pembedahan atau Penyakit Menetap
- Pembedahan atau penyakit yang mempengaruhi saluran gastrointestine
II. Pemeriksaan Fisik
a. Posisi Supine, hanya bagian abdomen yang tampak
b. Usus
* Infeksi
- simetris
- distensi
- gerak peristaltis
- permukaan peru
* Auskultasi : Bising usus
- Intensitas
- Frekuensi
- Kualitas
* Perkusi
- Distensi : Cairan, massa, udara
Mulai dari bagian kanan atas dan seterusnya
* Palpasi
- Dangkal atau dalam, abdomen relaks
- Daerah lembut atau keras
c. Rektum dan Anus
Posisi Lithoterni/Sirns
* Inspeksi : daerah perianal
- tanda-tanda inflamasi
- perubahan warna
- lesi : lecet, fistula, konsistensi, hemerroids
* Palpasi : dinding rektum
- massa lokasi dan ukuran
- tenderness
III. Pola Defekasi
- Bowel training
- Waktu defekasi
- Jumlah faeses
IV. Faeses
- Konsistensi
- Bentuk
- Bau
- Warna
- Jumlah
- Unsur abnormal dalam faeses
V. Pemeriksaan Diagnostik
- Anoskopi
- Proctosigmoidoskopi
- Proctoskopi
- RO dengan kontras
E. TINDAKAN KEPERAWATAN ELIMINASI
BAB
Pengertian
Membantu pasien yang hendak buang air besar (BAB) di atas tempat tidur
Tujuan :
1. Mengurangi pergerakan pasien
2. Membantu pasien dalam rangka memenugi kenutuhan eliminasi
3. Mengetahui adanya kelainan faeses atau urine secara langsung
Dilakukan pada :
1. Pasien yang sedang istirahat mutlak (total bedrest)
2. Pasien yang tidak dapat atau belum dapat berjalan sendiri ke WC
Persiapan alat :
1. Pispot atau steekpan dan urinal
2. Alat pispot
3. Botol berisi air cebok
4. Kapas cebok dalam tempatnya
5. Kertas klosed bila tersedia
6. Bengkok (nierbekken)
7. Sampiran (scherm)
8. Selimut atau kain penutup
9. Bel, bila tersedia
Persiapan pasien
Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang dilakukan
Pelaksanaan :
1. Pintu ditututp, kemudian sampiran (scerm) dipasang
2. Pakaian pasien bagian bawah ditanggalkan, kemudian bagian badan yang terbuka itu ditutup dengan selimut atau kain penutup
3. Pasien dianjurkan menekuk lututnya dan mengangkat bokong (jika perlu
dibantu oleh petugas)
4. Alas pispot dipasang
5. Pispot disorongkan sampai terletak dibawah bokong pasien. Jika pasien tidak dapat melakukannya sendiri, petugas membantu menekukkan lutut dan mengangkat bokong/pinggul pasien dengan tangan kiri, sedang ta- ngan kanan petugas menyorongkan pispot sedemikian rupa sehingga po-
sisinya tepat dan nyaman
6. Bila pasien sudah selesai buang air besar (BAB) dan atau buang air kecil
(BAK), kakinya direnggangkan dan selimut dibuka sedikit, selanjutnya
anus dan daerah genitalia dibersihkan dengan kapas cebok. Pasien di-
miringkan, tangan kiri petugas membuka bokong pasien, tangan kanan
membersihkan anus dengan cebok atau kertas kloset lalu dibuang ke da-
lam pispot, pembersihan ini dilakukan beberapa kali sampai anus bersih.
Setelah pasien selesai BAB, pispot diangkat, ditutup dan diturunkan.
7. Bila pasien menginginkan cebok sendiri, petugas membantu menyiram
dan selanjutnya tangan pasien dicuci, lalu pispot diangkat, ditutup dan
turunkan
8. Bokong pasien dikeringkan dengan pengalas
9. Setelah selesai, pasien dirapihkan, sedangkan peralatan dibereskan dan
dikembalikan ketempat semula
10. Pintu dan sampiran (scherm) dibuka kembali
PERHATIAN :
1. Bila tidak bisa ditolong oleh satu orang petugas, misalnya pasien gemuk,
Haemiplegia, payah dan lain-lain diperlukan lebih dari satu petugas, yang
Bekerja sebagai berikut:
a. Bila petugas: petugas berdiri di kanan/kiri pasien, sedangkan petugas
Mengangkat pasien dengan dua tangan, sedangkan petugas yang lain
Membantu sambil menyorongkan pispot
b. Bila tiga petugas: Dua orang berdiri disebelah kanan pasien, satu
orang disebelah kiri (atau sebaliknya). Petugas yang dua orang ber-
tugas mengangkat pasien, sedangkan yang seorang lagi menyorong-
kan pispot sambil membantu mengangkat bokong
2. Bila urine akan ditampung untuk bahan pemeriksaan, lebih dahulu tuang-
Kan ke dalam bengkok, lalu pispot atau urinal dipasang kembali, setelah
Itu baru diceboki
3. Bila faeses akan diperiksa, perlu disiapkan dua pispot yaitu satu untuk,
Tempat faeses dan satu lagi untuk cebok
4. Pispot atau urinal yang diberikan harus dalam keadaan bersih dan kering
5. Pispot tidak diberikan pada waktu :
a. Makan
b. Kunjungan keluarga atau menerima tamu
c. Kunjungan dokter (visite)
6. Usaha harus diperhatikan dan dicatat
a. Jumlahnya
b. Warnanya
c. Adanya kelainan (darah, nanah, dan lainnya)
7. Faeses harus diperhatikan dan dicatat
a. Keadaannnya (keras, lembek, encer)
b. Bentuknya
c. Warnanya
d. Adanya kelainan (darah, lendir, nanah atau cacing dan lain-lain)
e. Baunya
f. Keluhan lain dari pasien
8. Bokong pasien dikeringkan dengan pengalas
9. Setelah selesai, pasien dirapihkan, sedangkan perlatan dibersihkan,
dibereskan dan dikembalikan ketempat semula
10. Pintu dan sampiran (Scherm) dibuka kembali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar