Kamis, 10 Mei 2012

Kebutuhan eliminasi


Fungsi fisiologi yang efesien memerlukan pembuangan bahan-bahan yang kotor  dari tubuh,  pembuangan kotoran penting untuk kehidupan itu sendiri.  

Dengan  pengeluaran  (pembuangan)  melalui  saluran  kencing dan usus,
tubuh dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi. Kebutuhan badan dan dari produk buangan (kotoran). Pengeluaran yang efektif perlu untuk memelihara ke- sehatan maupun kehidupan itu sendiri. 
            Eliminasi (Elimination) secara garis besarnya menyangkut :
  1. Produk Buang Air Besar  (BAB)

  2. Produk Buang Air Kemih  (BAK)

            Mekanisme pembuangan (eliminasi), tidak hanya melibatkan usus (besar)

dan  kandung  kencing,  tetapi  juga  organ-organ   lain   seperti   paru-paru   dan

kelenjar keringat.

            Perawat harus menginsafi bahwa proses-proses itu penting supaya tubuh berfungsi dan menanganinya secara langsung dan objektif. Kebanyakan me-nganggapnya pengeluaran (pembuangan) sebagai sudah semestinya, kecuali kalau timbul masalah. Akan tetapi tindakan-tindakan pencegahan mungkin pen-ting untuk mendorong pola-pola yang normal dari pembuangan kotoran. Di dalam beberapa hal, untuk memudahkan pengeluaran perlu diambil tindakan perawatan kalau terjadi kegagalan suatu fungsi kolon.



B. KONSEP DASAR ELIMINASI BAB
       1. Review Anatomi Kolon
-  Kolon (usus besar) yang terdiri dari beberapa bagian, kolon yang naik dari usus  
    sampai ke hati disebut C. asendent, kemudian melengkung melintasi perut, 
    usus melintang disebut   C. transversum dari kanan ke kiri perut.
-  Tikungan  dari  usus   melintang  yang membentuk usus besar turun disebut C.
    desendent, lanjutan  dari   C. desendent   terletak   miring   dari   rongga  pel- 
     vis  sebelah   kiri    adalah   C. sigmoid     ujung   bawahnya     berhubungan 
     dengan  rektum  yang  menghubungkan kolon  dengan anus.
-  Merupakan pipa lumen muskuler malapisi membrana mukosa
-  Serat ototnya serkular dan longitudinal               contrakasi
-  Bentuknya berliku-liku / lekuk-lekuk, karena otot longitudinal  lebih  pendek dari     
    pada panjang kolon
-  Panjang kolon 1,5 m, lebarnya 5 – 6 cm
  * Fungsi Kolon :
     1. Absorpsi air dan nutrient
     2. Proteksi/perlindungan dengan mensekresikan mucus yang akan melindungi
         dinding usus dari trauma oleh faeses dan aktivitas bakteri
    3.  Mengantarkan sisa makanan sampai ke anus dengan cara berkontraksi 
  * Gerak Kolon
       - Haustral shuffling
         Gerakan mencampur chyme untuk membantu absorpsi air  
      - Kontraksi Haustral
          Untuk mendorong materi cairan dan semi padat sepanjang kolon
      - Pristalitis
        Berupa gelombang merupakan gerak maju menuju anus
   *  Defekasi
        Ada dua pusat yang menguasi refleks untuk defekasi yaitu yang terletak di
        medulla dan sebuah cabang di sum-sum tulang belakang.  
         Secara sistematis fisiologi Defekasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Refleks Defekasi Parasimpatis


Usus besar menguncup


Refleksi Defekasi Diransang oleh Faeses Dalam Rektum


Rektum Regang


Tekanan Di Dalam Rektum naik

 


Refleks Dirangsang oleh Rentangan Otot

 


Timbul Keinginan Untuk BAB
      2. Pengaruh Psikososial Terhadap Fungsi Kolon
            * Ketegangan

               Keadaan yang menyebabkan tegang dan penyakit dapat mengakibatkan

               gangguan keadaan normal dari pengeluaran kotoran, mereka yang me-

                ngalami keadaan tegang sehingga sering mengalami masalah penge-

                luaran kotoran dari tubuh
            Anal incontinensia
                 Ketidak mampuan sphinter anus untuk mengatasi pembuangan tinja
                 dan gas disebut anal incontinensia ini disebabkan penyakit organis me-
                 ngakibatkan kondisi mekanis akan menghalangi fungsi wajar dari dubur
                 atau rusaknya saluran syaraf ke dubur

           *    Incontinensia stres
                  Melemahnya otot spinter anus dan meningkatnya tekanan dirongga pe- 
                  rut dapat terjadi incontinensia stres, bentuk ini juga dapat terjadi pada    
                   diare
            *   Penyimpangan neurologis
                 Beberapa penyakit fital terutama pada penyakit penyimpangan neorolo-    
                gis dimana seseorang tidak dapat mengontrol spinternya
            Resiko dan akibat dari gangguan suatu fungsi kolon seperti inconti-
           nensia dapat mempengaruhi gangguan psikososial yang serius, se-
            perti :
           -  Penderita merasa malu dan mungkin mengganggu emosinya
           -  Pasien mendapat pandangan yang lebih jelek akan dirinya sendiri
           -  Kemungkinan untuk berfungsi secara mandiri menjadi kecil  
          -  Pasien incontinensia kadang-kadang terorganisir dari lingkungan sosial-
             nya.  

     3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi BAB
       1. Usia
       2. Diet : Kualitas; Frekuensi, dan Jumlah
       3. Intake Cairan; jumlah
       4. Tonus Otot : terutama otot abdormen ditunjang oleh aktivitas
       5. Psikologis : mempengaruhi paristaltis atau mobilitas intestine
       6. Life Style : ADL yang biasa dilakukan dan bowel training saat anak-anak
C.MASALAH YANG SERING TERJADI DALAM  
  ELIMINASI BAB
        1. Konstipasi          
            Gangguan pada eliminasi akibat adanya faeces yang kering, keras yang
            melewati usus besar. Passase  faeces yang lama dikarenakan jumlah air 
            yang diabsorpsi sangat kurang sehingga faeces kering dan keras
        2. Fecal Impaction
             Massa yang keras dilipatan rektum akbat retensi dan akumulasi faeces 
             yang berkepanjangan
        3. Diare
             Keluarnya faeces cair dan menaikkan frekuensi BAB akibat cepatnya chy-

             me melewati usus sehingga usus besar tidak mempunyai cukup waktu

   menyerap air
        4. Inkontinensia Alvi
            Hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran faeces dan gas
             yang melalui sfingter anus akibat kerusakan fungsi sfingter atau persara-
             fan di daerah anus hal ini disebabkan masalah-masalah kejiwaan.
       5. Kembung
           Flatus yang berlebihan di instestinal sehingga menyebabkan intestinal.
       6. Hemorroids (Bawasir)
           Pelebaran vena di daerah anus, sebagai akibat peningkatan tekanan di
           daerah tersebut.
D. MENGKAJI KEBUTUHAN ELIMINASI BAB 
I. Riwayat Keperawatan
    a. Pola Defekasi 
          - Frekuensi / hari ?
          - Pernah berubah ?
          - Apa penyebabnya ?
     b. Perilaku Defekasi
         - Pelaksanaan laksatif
         - Bagaimana cara mempertahankan pola
     c. Dekskripsi Faeses
         - Gambaran klien tentang faeses, warna, tekstur, bau dan “shape” (bentuk)
     d. Diet
         - Menurut klien makanan yang mempengaruhi defekasi
         - Makanan yang biasa dimakan
         - Makanan yang dihindari
         - Makanan teratur atau tidak
     e. Cairan
         - Jumlah dan jenis minuman / hari
     f. Aktifitas
        - Kegiatan sehari-hari
        - Kegaiatan spesifik
     g. Penggunaan Medikasi
         - Penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi saluran gastrointestinal
     h. Stress
         - Stress berkepanjangan atau pendek
         - Koping untuk menghadapi atau bagaimana menerima
     i. Pembedahan atau Penyakit Menetap
         - Pembedahan atau penyakit yang mempengaruhi saluran gastrointestine
  II. Pemeriksaan Fisik
     a. Posisi Supine, hanya bagian abdomen yang tampak
     b. Usus
         * Infeksi
           - simetris  
           - distensi
           - gerak peristaltis
           - permukaan peru
        * Auskultasi : Bising usus
           - Intensitas
           - Frekuensi
           - Kualitas
        * Perkusi
           - Distensi : Cairan, massa, udara
              Mulai dari bagian kanan atas dan seterusnya
        * Palpasi
           - Dangkal atau dalam, abdomen relaks
           - Daerah lembut atau keras
    c. Rektum dan Anus
         Posisi Lithoterni/Sirns
* Inspeksi : daerah perianal
   - tanda-tanda inflamasi
   - perubahan warna
   - lesi : lecet, fistula, konsistensi, hemerroids
* Palpasi : dinding rektum
   - nodul
   - massa                       lokasi dan ukuran
   - tenderness
III. Pola Defekasi
       - Bowel training
       - Waktu defekasi
       - Jumlah faeses
IV. Faeses
       - Konsistensi
       - Bentuk
       - Bau
       - Warna
       - Jumlah
       - Unsur abnormal dalam faeses
V. Pemeriksaan Diagnostik
      - Anoskopi
      - Proctosigmoidoskopi
      - Proctoskopi
      - RO dengan kontras



E. TINDAKAN KEPERAWATAN ELIMINASI
        BAB
 Pengertian
 Membantu pasien yang hendak buang air besar (BAB) di atas tempat tidur
 Tujuan :                       
1.    Mengurangi pergerakan pasien
2.    Membantu pasien dalam rangka memenugi kenutuhan eliminasi
3.    Mengetahui adanya kelainan faeses atau urine secara langsung
 Dilakukan pada :
1.    Pasien yang sedang istirahat mutlak (total bedrest)
2.    Pasien yang tidak dapat atau belum dapat berjalan sendiri ke WC
Persiapan alat :
1.    Pispot atau steekpan dan urinal
2.    Alat pispot
3.    Botol berisi air cebok
4.    Kapas cebok dalam tempatnya
5.    Kertas klosed bila tersedia
6.    Bengkok (nierbekken)
7.    Sampiran (scherm)
8.    Selimut atau kain penutup
9.    Bel, bila tersedia     
Persiapan pasien
Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang dilakukan
Pelaksanaan :
1.    Pintu ditututp, kemudian sampiran (scerm) dipasang
2.    Pakaian  pasien  bagian  bawah  ditanggalkan,  kemudian bagian badan yang terbuka itu ditutup dengan selimut atau kain penutup
3.    Pasien dianjurkan menekuk lututnya dan mengangkat bokong (jika perlu
dibantu oleh petugas)
4.    Alas pispot dipasang
5.    Pispot disorongkan sampai terletak dibawah bokong pasien. Jika pasien tidak dapat melakukannya sendiri, petugas membantu menekukkan lutut dan  mengangkat  bokong/pinggul pasien dengan tangan kiri, sedang ta- ngan kanan petugas menyorongkan pispot sedemikian rupa sehingga po-
sisinya tepat dan nyaman
6.    Bila pasien sudah selesai buang air besar (BAB) dan atau buang air kecil
      (BAK), kakinya  direnggangkan  dan  selimut  dibuka  sedikit, selanjutnya
      anus dan daerah  genitalia  dibersihkan dengan kapas cebok. Pasien di-
      miringkan,  tangan  kiri petugas membuka bokong pasien, tangan kanan
      membersihkan anus dengan cebok atau kertas kloset lalu dibuang ke da-
      lam pispot, pembersihan ini dilakukan beberapa kali sampai anus bersih.
      Setelah pasien selesai BAB, pispot diangkat, ditutup dan diturunkan.
7.    Bila  pasien  menginginkan cebok sendiri, petugas membantu menyiram
      dan selanjutnya  tangan  pasien  dicuci, lalu pispot diangkat, ditutup dan
                turunkan
8.    Bokong pasien dikeringkan dengan pengalas
9.    Setelah selesai, pasien dirapihkan, sedangkan peralatan dibereskan dan
dikembalikan ketempat semula
10.  Pintu dan sampiran (scherm) dibuka kembali
PERHATIAN :
1.    Bila tidak bisa ditolong oleh satu orang petugas, misalnya pasien gemuk,
Haemiplegia, payah dan lain-lain diperlukan lebih dari satu petugas, yang
Bekerja sebagai berikut:
a.    Bila petugas: petugas berdiri di kanan/kiri pasien, sedangkan petugas
Mengangkat pasien dengan dua tangan, sedangkan petugas yang lain
Membantu sambil menyorongkan pispot
b.    Bila  tiga  petugas:  Dua  orang  berdiri  disebelah  kanan pasien, satu
      orang disebelah kiri (atau sebaliknya). Petugas yang dua orang ber-
      tugas mengangkat pasien, sedangkan yang seorang lagi menyorong-
      kan pispot sambil membantu mengangkat bokong
2.    Bila urine akan ditampung untuk bahan pemeriksaan, lebih dahulu tuang-
Kan ke dalam bengkok, lalu pispot atau urinal dipasang kembali, setelah
Itu baru diceboki
3.    Bila  faeses  akan  diperiksa, perlu  disiapkan dua pispot yaitu satu untuk,
Tempat faeses dan satu lagi untuk cebok
4.    Pispot atau urinal yang diberikan harus dalam keadaan bersih dan kering
5.    Pispot tidak diberikan pada waktu :
a.    Makan
b.    Kunjungan keluarga atau menerima tamu
c.    Kunjungan dokter (visite)
6.    Usaha harus diperhatikan dan dicatat
a.    Jumlahnya
b.    Warnanya
c.    Adanya kelainan (darah, nanah, dan lainnya)
7.    Faeses harus diperhatikan dan dicatat
a.    Keadaannnya (keras, lembek, encer)
b.    Bentuknya
c.    Warnanya
d.    Adanya kelainan (darah, lendir, nanah atau cacing dan lain-lain)
e.    Baunya
f.     Keluhan lain dari pasien
8.    Bokong pasien dikeringkan dengan pengalas
              9.   Setelah selesai, pasien dirapihkan, sedangkan perlatan dibersihkan,
      dibereskan dan dikembalikan ketempat semula
       10.  Pintu dan sampiran (Scherm) dibuka kembali

Tidak ada komentar: